Mungkin jika kita melihat judul di atas rasanya "norak" banget, kampungan atau apapun itu, yang jelas mendengar kata "kampung" konotasinya adalah terbelakang segala-galanya. Pendapat itu adakalanya benar dari satu sisi, namun dari sisi lain kemungkinan itu bisa ditepiskan.
Baru-baru ini saya memulai perjalanan darat dari Jakarta ke "kampung" saya, kemudian dilanjutkan ke daerah lain, sebelum melakukan perjalanan tersebut bagi sementara orang mungkin akan sangat menjemukan dan menguras tenaga, tidak efisien dan buang waktu.
Bagi saya perjalanan darat kemanapun tujuannya terlebih pulang "kampung" ternyata sangat menyenangkan, terbayang berbagai makanan dan suasana yang tidak kita peroleh ditempat kita merantau misalnya Jakarta, berapa lamapun kita hidup diperantauan namun suasana "kampung" kadang masih kita diperlukan.
Suasana itu menurut saya dapat menjadikan kita tetap "memijak" bumi, mengenali darimana kita berasal, apa yang telah kita dapatkan, apa yang akan kita lakukan maupun apa apa yang lain..... terkait dengan kehidupan kita.
Makanya tidak lah patut kita salahkan apabila masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, menjelang hari raya mereka berbondong-bondong pulang kampung dengan berbagai kesulitannya, sulit transportasi, maupun biaya yang tinggi...... tapi memang nikmat, senikmat minum teh ditemani dengan "balokan" dan 'mendoan'..... juga senikmat menulis blogg ini dari kampung........ salam semuanya.........
'balokan' ---> potongan ubi yang digoreng
'mendoan'--> tempe setengah matang yang digoreng setengah matang juga......






